Mengenai Saya
- Rahman Yaasin Hadi
- Aku anak pertama dari tiga bersaudara, dan Aku satu-satunya anak laki-laki yang dilahirkan oleh ibuku dari hasil pernikahan dengan ayahku. saat ini aku sedang menempuh pendidikan S1 di Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia. Aku senang menulis, dan membaca, kemudian berteater, bermusik, dan masih banyak lainnya. Saat ini Aku aktif di organisasi kampus, HMI MPO FH UII dan UKM SANGGAR TERPIDANA. Aku bercita-cita menjadi seorang pengacara dan sastrawan.. let's make friendship. =)
Kita semua sudah sama-sama muak
disuguhi oleh hal-hal yang memenuhi kelenjar pembodohan.
Kita semua sudah sama-sama pusing
dengan bising suara-suara yang penuh tipu daya
Kita tak tahu harus percaya lagi kepada siapa dan apa (manusia)
bahkan kita tak tahu sebenarnya ini zaman apa?
Telah menjadi stigma dan merekat kedalam kepala kritis kita
bahwa akan selalu berprasangka buruk pada penguasa yang bukan pemimpin sejati.
Teori-teori konspirasi itu kini semakin jelas adanya
bahwa Dajjal dan kapitalis-kapitalis itu,
perlahan akrab dalam setiap nafas dan perjalanan.
simbol-simbol kemegahan dan kejayaan tak ubahnya seperti lintah yang berkamuflase.
Kita sama-sama bingung
Kita sama-sama marah
tapi kita tak tahu harus bagaimana.
Sistem jahat itu telah meringsek dan menjalar begitu dalam.
Ini membuat kita menjadi mual,
membuat semua orang ingin memuntahkan isi dalam perutnya
tapi begitu banyak aturan yang melarang
dan begitu gila lantai yang ingin diludahi itu
Tak bisa berbuat apa-apa
beresiko larut didalamnya
dan semakin lama menganggap ini semua hal biasa
menunggu langit runtuh dan kita tak siap menghadapinya?
Yogyakarta 31 Maret 2012
3:31 WIB
Ulah siapa ?
Aku dihantui oleh pikiran-pikiran yang kuciptakan sendiri,
dari hasil prasangka yang tak bisa dipertanggungjawabkan.
Penilaian yang begitu dangkal,
dan kenaifan yang merajai diri.
Aku dikejar oleh bayangan yang kuciptakan sendiri,
namun timbul secara naluriah
seperti kecurigaan yang timbul secara alamiah
namun tetap belum bisa dibuktikan kebenarannya.
Aku tak seharusnya terjangkit pertanyaan-pertanyaan semacam itu
sungguh suatu kepicikan dan kenaifan yang menjadi-jadi
obsesi yang melupakan segala unsur-unsur baik
dan siap berubah menjadi ambisi.
Karena itu seharusnya aku menggali kedalaman hati
melapangkannya dan bersiap dari segala kemungkinan
mengubur pertanyaan ini
lalu menunggu kenyataan atau kejujuran yang akan muncul sendiri.