Bayang-Bayang #cerpen

“Bayang-Bayang”
(Karya: Rahman Yaasin Hadi)

Terlihat lagi sekelebat bayangan hitam, curi-curi perhatian. Aku tidak takut. Hanya terganggu. Memang sudah biasa. Tapi aku jemu jika terus begitu. Berbagai macam mantra, sudah kukomat-kamitkan, namun tak kunjung bisa mengusirnya. Detik ini kuputuskan untuk kudiamkan. Suatu saat, pasti bayangan itu akan lelah. Atau mungkin aku sendiri yang lelah. Aku tak tahu.

Malam semakin larut. Aku masih membereskan kamar yang telah diporak-porandakan bayangan hitam. Aku diam saja. Tak mengeluh. Tubuhku lemas, sementara kamar masih seperti kapal pecah. Bayangan hitam menunggu disudut kamarku. Aku pura-pura tak melihat. Dia cekikikan melihatku membereskan hasil ulahnya.


Esoknya. Dikantin kantor. Saat jam makan siang. Aku masih kelelahan. Kantung mata membesar. Menghitam. Nia heran, “Dina, matamu hitam begitu.... sembab?” tanyanya perhatian padaku. “Semalam tidur jam berapa?”

Tidak Ada Lagi Harapan #puisi

Tidak Ada Lagi Harapan
(Puisi, Karya: Rahman Yaasin Hadi)

Harapan hanyalah
jalan menuju kepiluan

Kurawat perasaan di dalam hati.
Kubentengi setiap penglihatan dan pendengaran
supaya engkau tetap indah
bersemi dalam hati

Harapan hanyalah
angan-angan yang melarikanku dari kenyataan.

Nyanyian dari Atas Bukit #cerpen

“Nyanyian dari Atas Bukit”
(Karya: Rahman Yaasin Hadi)

Terdengar lagi suara merdu itu.

Orang-orang sudah tak berani mendekatinya, bahkan mereka melindungi telinga dan dadanya.

Beberapa waktu belakangan ini, selalu terdengar di setiap senja – bukit batas kota, nyanyian yang indah. Namun itu bukan keindahan yang biasa, sebab dalam hanyutnya suara itu begitu mematikan. Beberapa orang yang sengaja mendengar maupun tidak, telah menjadi korban. Mereka tewas. Mengenaskan dengan gendang telinga yang pecah, dan dada yang biru legam.

Dari penelitian forensik dan ahli fisika muncul suatu dugaan kuat: Nyanyian itu berasal dari penghayatan yang dalam, mengandung unsur frekuensi supersonik yang memekik-mekik. Getaranya merambat sangat cepat menuju gedang telinga, lalu berhenti dan mengumpul kedalam dada manusia, menggetarkan seluruh isi dadanya. frekuensi dan getaran itu hampir setara dengan energi yang dihasilkan oleh senyawa satu kilo bom atom.

Bunga Kertas Emas #cerpen



“Bunga Kertas Emas”

(Karya: Rahman Yaasin Hadi)


Bunga itu masih bersemayam di toples dalam kamarmu. Masih tersimpan, tiada berubah, masih cantik, secantik dulu. Nanti kamu bisa lihat bunga itu tersenyum, kelopaknya yang mekar dan runcing, menari-nari dalam ruang hampa udara toples beningmu. Tapi melihat Bunga Kertas Emas menari, kamu akan seperti diajaknya melihat dia, saat pertama kali membuatkannya untukmu.



Di sebuah senja, di taman batas kota. Waktu itu kamu bilang padanya, jika kamu tak suka melihatnya merokok, lalu dia berkata, jika dia akan membuatkanmu sebuah keindahan dari unsur rokok. Dia mengeluarkan bungkus rokok, mengeluarkan seluruh isinya, dan mengambil kertas kuningan, berwarna emas.



Dia mulai melipat dan melipat, kamu mengamati dengan sabar. Dia mencecap rokoknya lalu tersenyum manis padamu, kemudian melanjutkan melipat dan melipat, kamu masih sabar mengamati. Beberapa menit, terlihat bentuknya, dia persembahkan untukmu setangkai Bunga Kertas Emas. Kamu tersipu malu, sebab begitu indahnya bunga itu. Sejenak kamu lupa jika kamu kesal dengan kebiasaannya merokok.



Mencari Sapto (4-Selesai)

“Mencari Sapto”
-Bagian Empat-Selesai-
(Karya: Rahman Yaasin Hadi)


Semua orang memperhatikan. Pak Polisi siap dengan buku catatannya. Samsul terlihat tidak tenang, ia cemas, entah apa yang dipikirkannya.

“Pak, uang dua jutanya apa sudah bapak bayarkan ke toko?” tanya Heni. Samsul bertambah cemas menunggu jawaban. Pak Polisi memperhatikan, siap mencatat.

“Oooo... haha,” terdengar gelak tawa dari seberang, suaranya pecah-pecah beradu dengan bising kendaraan pada latar belakangnya, “Maaf bu... maaf... saya tidak memberikan kabar... kebetulan saat saya berangkat tadi, mobil saya mogok, jadi saya belum sempat membayar ke toko...” Kata suara dari seberang dengan enteng.

Di kantor Polisi semua berpandang-pandangan, merasa kaget satu-sama lain. Heni menyorotkan mata tak enak hati; Samsul memberikan sorotan malu; Pak Polisi memberikan sorotan kesal, matanya melotot.

Mencari Sapto (3)

“Mencari Sapto”
-Bagian Tiga-
(Karya: Rahman Yaasin Hadi)

Samsul kikuk, dihujani pandangan Pak Polisi dan Istrinya.

“Lho... Lho... Kok saya?” tak sadar keringat mulai keluar dari pori-pori Samsul, “Mah bukan papah lho! Kan papah yang mengajak ke kantor Polisi?” Samsul memandangi istrinya, berusaha meyakinkan. Kemudian berganti memandang Pak Polisi, “Pak bukan saya lho pak! bukan pak!”

“Makanya, tidak enak kan kalau dituduh? Kalau hanya curiga itu gampang. Untungnya Polisi adalah lembaga penegak hukum, bukan penegak politik. Oleh karena itu polisi harus bekerja berdasarkan fakta hukum pula. Apa Pak... Pak...” Pak Polisi berusaha mengingat nama, “Pak Samsul! Apa Pak Samsul sudah paham?”

Mengenai Saya

Foto saya
Mari berteman, Twitter: @RahmanYH