“Bunga Kertas Emas”
(Karya: Rahman Yaasin Hadi)
Bunga itu masih bersemayam di toples dalam kamarmu. Masih tersimpan, tiada berubah, masih cantik, secantik dulu. Nanti kamu bisa lihat bunga itu tersenyum, kelopaknya yang mekar dan runcing, menari-nari dalam ruang hampa udara toples beningmu. Tapi melihat Bunga Kertas Emas menari, kamu akan seperti diajaknya melihat dia, saat pertama kali membuatkannya untukmu.
Di sebuah senja, di taman batas kota. Waktu itu kamu bilang padanya, jika kamu tak suka melihatnya merokok, lalu dia berkata, jika dia akan membuatkanmu sebuah keindahan dari unsur rokok. Dia mengeluarkan bungkus rokok, mengeluarkan seluruh isinya, dan mengambil kertas kuningan, berwarna emas.
Dia mulai melipat dan melipat, kamu mengamati dengan sabar. Dia mencecap rokoknya lalu tersenyum manis padamu, kemudian melanjutkan melipat dan melipat, kamu masih sabar mengamati. Beberapa menit, terlihat bentuknya, dia persembahkan untukmu setangkai Bunga Kertas Emas. Kamu tersipu malu, sebab begitu indahnya bunga itu. Sejenak kamu lupa jika kamu kesal dengan kebiasaannya merokok.