“Ayah Pulang”
(Karya: Rahman Yaasin Hadi)
Hidup sebagai kepala keluarga yang beristri dan memiliki anak, di zaman sekarang ini ternyata sudah berbeda. Dulu waktu saya masih kecil, ketika Bapak pulang, saya, kakak, dan ibu saya, rajin menyambut Bapak dengan hangat.
Waktu itu kadang Ibu, kadang saya, kadang juga kakak saya rajin berseru; “Bapak pulang!” Setelah itu kami berhamburan dari kegiatan masing-masing, berkumpul menuju pintu masuk rumah, lalu antre satu-persatu untuk menciumi tangan Bapak. Setelah Bapak duduk kami berebutan untuk mencopoti sepatu serta kaus kaki beliau. Kami senang jika Bapak pulang, apalagi lebih senang rasanya jika Bapak membawa sesuatu, misalnya; makanan, atau bahan makanan untuk dimasak bersama-sama. Kepulangan Bapak selalu ditunggu-tunggu, sebab bukan hanya karena senang, tapi itu juga bentuk penghormatan kami pada beliau, yang sudah lelah bekerja membanting tulang untuk menghidupi keluarga.
Seperti yang saya katakan di awal tadi, lain dulu lain sekarang. Sebenarnya ingin sekali saya sebagai ayah ataupun suami diperlakukan istimewa ketika pulang. Tapi boro-boro distimewakan, disambut saja bisa dihitung jari. Seharian bekerja itu lelah, tapi lebih lelah lagi ketika mendapati rumah terasa dingin. Saya merasa seperti diacuhkan. Ketika saya pulang, istri dan anak-anak saya sibuk sendiri. Kadang malah mereka tidak ada dirumah, entah kemana. Saya maklumi, mungkin karena sosok ayah sudah tidak sentral lagi seperti dulu. Saya juga maklum, sebab istri saya juga bisa bekerja sendiri, bahkan gajinya lebih besar dari saya. Ya, saya maklum.
