“Bayang-Bayang”
(Karya: Rahman Yaasin Hadi)
Terlihat
lagi sekelebat bayangan hitam, curi-curi perhatian. Aku tidak takut. Hanya
terganggu. Memang sudah biasa. Tapi aku jemu jika terus begitu. Berbagai macam
mantra, sudah kukomat-kamitkan, namun tak kunjung bisa mengusirnya. Detik ini
kuputuskan untuk kudiamkan. Suatu saat, pasti bayangan itu akan lelah. Atau
mungkin aku sendiri yang lelah. Aku tak tahu.
Malam
semakin larut. Aku masih membereskan kamar yang telah diporak-porandakan bayangan
hitam. Aku diam saja. Tak mengeluh. Tubuhku lemas, sementara kamar masih
seperti kapal pecah. Bayangan hitam menunggu disudut kamarku. Aku pura-pura tak
melihat. Dia cekikikan melihatku membereskan hasil ulahnya.
Esoknya. Dikantin kantor. Saat jam makan siang. Aku masih kelelahan. Kantung mata membesar. Menghitam. Nia heran, “Dina, matamu hitam begitu.... sembab?” tanyanya perhatian padaku. “Semalam tidur jam berapa?”
